5 Suku Di Dunia Yang Menghalalkan Tumbal Manusia

Dalam perjalanan peradaban manusia tidak luput dari hal-hal yang berbau kekejaman, sadisme, bukan saja di dalam peperangan ataupun pertarungan mempertahankan hidup, melainkan dalam menjalankan sebuah keyakinan terhadap hal-hal ‘gaib’ atau deisme, animisme maupun dinamisme.

Bahkan untuk memohon berkat dan restu dari kekuatan gaib, mereka rela mengorbankan nyawa manusia dengan menggunakan metode yang menyakitkan hingga dengan cara yang sangat sadis. Mereka akan memberikan apa saja yang dipunyai mulai dari bahan makanan, ternak, hingga manusia. Di era modern, praktik seperti ini mungkin masih ada, namun masih terselubung.

Pengorbanan manusia atau sering disebut ‘tumbal’ dianggap mampu memberikan dampak magis yang sangat besar bagi seseorang ataupun suatu kelompok. Di masa lalu, praktik seperti ini banyak sekali dilakukan. Beberapa korban ditemukan oleh arkeolog setelah ratusan tahun terkubur di dalam tanah. Berikut beberapa suku ataupun kelompok yang menghalalkan tumbal demi keselamatan hidup mereka. Disimak ya guys!

1. Suku Maya

Suku Maya adalah suku yang dikenal senang sekali mengorbankan nyawa manusia. Salah satu upacara yang sering dilakukan adalah untuk memanggil hujan. Puluhan orang dalam ritual itu akan dibelah perutnya dan diambil hatinya. Mayat nya akan ditenggelamkan di danau yang airnya langsung berubah warna menjadi warna merah darah. Orang suku Maya percaya jika mengorbankan manusia yang banyak maka hujan akan segera turun.

Pengorbanan ini dilakukan di kolam Belize Cara Blanca. Suku Maya percaya jika dewa Chaak akan segera memberinya hujan setelah mayat-mayat tenggelam dalam air. Upacara ini terus dilakukan selama berpuluh tahun hingga kolam penuh dan jumlah rakyatnya semakin menipis.

2. Suku Acolhua

Suku Acolhua adalah suku yang terdapat di Meksiko kuno. Mereka dikenal suka melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang akan dijadikan tumbal. Korban yang tidak berasal dari suku akan disembelih dan dikeluarkan isi perutnya dalam sebuah upacara pengorbanan di tengah kerumunan warga desa. Kepala suku Acolhua akan memberikan arahan mengenai tatacara penyembelihan manusia dengan benar agar dewa-dewa mereka senang dengan tumbalnya ini.

Setelah disembelih, daging manusia akan dimasak bersama-sama dan dinikmati dalam upacara yang sakral. Kepala korban biasanya akan dijadikan pajangan di tengah desa. Semakin banyak kepala artinya semakin banyak keberkahan yang akan diterima.

3. Suku Indian Mapuche

Gempa yang sering terjadi di Chile sejak tahun 1960 lalu membuat suku Indian Mapuche merasa harus mengorbankan tumbal bocah usia 5-6 tahun. Bocah yang menjadi tumbal akan dibelah perutnya dan hatinya akan diambil dan dibuang ke dalam laut.

Tujuannya adalah untuk persembahan kepada Tuhan. Dengan membuang hati bocah itu ke laut, mereka berharap Tuhan akan senang dan membuat laut serta bumi tenang. Digadang-gadang, bocah yang dibunuh itu bernama Jose Luis Painecur.

Sebelum diambil hatinya, tangan dan kaki bocah malang ini sempat dimutilasi. Orang tua Painecur juga harus rela dihukum lantaran telah memberi izin atas pembunuhan anak mereka saat itu.

4. Suku Aztec

Suku Aztec adalah salah satu suku Indian di benua Amerika yang dikenal dengan ritual pengorbanannya yang sadis. Salah satunya ritual mencabut jantung manusia yang masih hidup untuk menghormati dewa matahari, Huitzilopochtli. Masih banyak ritual yang dimiliki oleh Suku Aztec yang melibatkan pengorbanan manusia sebagai persembahan kepada Tlaloc, Xipe Totec dan ‘Ibu Pertiwi’ Teteoinnan.

Persembahan kepada Tlaloc adalah dengan menguliti anak laki-laki yang masih hidup, sementara persembahan kepada Xipe Totec adalah menembakkan panah ke arah tubuh sang korban sebelum akhirnya dikuliti oleh para pendeta adat.

Dan persembahan kepada Teteoinnan adalah dengan menguliti tubuh perempuan yang masih hidup. Semua ritual tersebut memiliki makna yang sama dan korbannya pun dipilih secara hati-hati dan teliti, kemudian ia akan disebut dengan ‘yang terpilih.’

5. Suku di Jepang

Sebenarnya orang Jepang tidak menumbalkan manusia, tetapi menumbalkan diri sendiri yang sering dikenal dengan Harakiri. Harakiri adalah salah satu tradisi kebanggan orang Jepang, yang berasal dari kata “hara” berarti perut dan “kiri” berarti memotong. Harakiri dikenal juga dengan istilah seppuku. Tradisi harakiri ini dilakukan oleh prajurit berkelas dari kalangan samurai sebagai bukti kesetiaan nya kepada dewa-dewa orang Jepang.

Bunuh diri yang dilakukan Samurai ini sangat menyiksa, sebab si pelaku mesti merobek dan mengeluarkan isi perutnya. Ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh Samurai apabila mau melaksanakan harakiri. dia harus mandi, memakai kimono putih dan memakan makanan favorite sebelum melakukan aksinya.

Pelaku harakiri ditemani juga seseorang yang sisebut kaishakunin, yang dia pilih sendiri. Kaishakunin ini bertugas membuka kimononya dan mengambilkan pisau yang akan digunakannya.

Apabila pelaku harakiri menjerit atau menangis kesakitan disaat dia menusuk dan mengeluarkan isi perutnya, hal itu dianggap sesuatu yang memalukan bagi seorang Samurai. Sebab itu Kaishaku bertugas mempercepat kematian dan mengurangi penderitaan itu, dengan memenggal kepala si pelaku.

Nah guys, tindakan tumbal manusia ataupun menumbalkan diri sendiri ini sangatlah bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Jadi, jangan ditiru ya guys.