Miris, History Kejahatan Genosida Pemerintah Myanmar Terhadap Etnis Rohingya

Apakah kamu mengikuti setiap berita yang terjadi pada minoritas Rohingya? Ternyata, sejarawan Jacques P.Leider mengatakan bahwa pada abad ke-18 ada catatan seorang warga negara Inggris bernama Francis Buchanan-Hamilton yang sudah menyebutkan adanya masyarakat Muslim di Arakan. Mereka menyebut diri mereka “Rooinga”. Ada yang mengatakan bahwa istilah ini berasal dari kata “rahma” (rahmat) dalam bahasa Arab atau “rogha” (perdamaian) dalam bahasa Pashtun.

Selain itu, banyak sejarawan mengatakan jika wilayah Ruha di Afghanistan dianggap sebagai tempat asal Rohingya. Dengan demikian, sudah jelas bahwa Rohingya merupakan kelompok imigran dari Bangladesh yang sudah ratusan tahun tinggal di Arakan, Rakhine, Myanmar. Sebagai kelompok yang sudah lama menetap di sebuah wilayah yang kebetulan kini menjadi bagian dari negara Myanmar, tentu saja sudah selayaknya mereka mendapatkan hak-hak dasar mereka, terutama status kewarganegaraan.

Namun, hak-hak yang mereka perjuangkan malah dibalas dengan ketidakadilan dari pemerintah Myanmar, bahkan berujung pembantaian genosida! Berikut ini saya akan memaparkan ulasan lengkap tentang upaya pemerintah Myanmar untuk membersihkan etnis Rohingya.

Awal Mula Pembantaian Etnis Rohingya

Berita tentang Muslim Rohingya timbul akibat konflik yang terjadi antara etnis Rohingya yang sebagian besar adalah Muslim dan etnis Rakhine yang mayoritas merupakan penganut Buddha. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerusuhan itu merupakan buntut salah satu peristiwa perampokan dan pemerkosaan terhadap perempuan Rakhine bernama Ma ThidaHtwe pada 28 Mei 2012.

Kepolisian Myanmar sebenarnya sudah menahan dan penjarakan 3 orang tersangka pelaku yang kebetulan dua di antaranya adalah etnis Rohingya. Namun, ternyata kebenarannya adalah gadis itu dibunuh kekasihnya sendiri dan meletakkan mayatnya di pemukiman Rohingya, karena etnis Rakhine yang sudah tersulut emosi akhirnya bentrok dengan minoritas Rohingya.

Inilah fakta yang ditunjukkan oleh Pemerintah Budha Burma kepada dunia, bahwa mereka berani menciptakan peristiwa dan kasus palsu hanya untuk mencari kesempatan membunuh Umat Islam Rohingnya.

Kondisi Minoritas Rohingya Sebelum Terjadinya Pembantaian

Pemerintah Myanmar tak mengakui kewarganegaraan kelompok Rohingya karena menganggap minoritas ini bukan merupakan kelompok etnis yang sudah ada di Myanmar sebelum kemerdekaan Myanmar pada 1948. Hal itu ditegaskan kembali oleh Presiden Myanmar, Thein Sein, ia mengatakan bahwa Myanmar tak mungkin memberikan kewarganegaraan kepada kelompok Rohingya yang dianggap imigran gelap yang datang dari Bangladesh itu. Warga Myanmar juga menyebut mereka pendatang haram dari Banghladesh.

Bahkan Presiden Myanmar Thein Sein mantan jenderal militer itu mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein Sein mengatakan, sekitar 800 ribu etnis Rohingya harus ditempatkan pada kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh. Lebih menyedihkan lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.

Sebenarnya sebelum pembantaian genosida terjadi, pemerintah Myanmar sudah pernah mengirim etnis Rohingya ke negara Bangladesh. Namun, Bangladesh menolak dan berdalih bahwa mereka tidak sanggup untuk menampung etnis Rohingya tersebut. Akibatnya, nasib mereka terkatung-katung dan harus diam dari penyiksaan hingga pembunuhan massal yang dilakukan pemerintah Myanmar.

Latar Belakang Pembantaian Pertama Kelompok Rohingya

Ternyata bukan hanya ditekan oleh militer dan pemerintahan Burma. Etnis Rohingya pun juga menjadi sumber konflik horisontal antar agama. Konflik horisontal ini semakin memanas ketika para tokoh pemuka agama sudah mulai ikut melakukan intervensi. Di sejumlah titik dekat pengungsian, sekelompok biksu mengeluarkan selebaran berisi peringatan kepada warga Myanmar untuk tidak bergaul dengan Muslim Rohingya.

Sementara selebaran lainnya berisi rencana untuk memusnakah kelompok etnis lain di Myanmar. Lebih rumit lagi, ketika dua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Asosiasi Biksu Muda Sittwe dan Asosiasi Biksi Mrauk Oo menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. “Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma.

Mereka akar penyebab kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam sebuah acara di London. Mendapat reaksi positif dari pemuka agama, mayoritas Rakhine akhirnya memulai awal konflik dengan minoritas Rohingya.

Kejadian ini terjadi pada tahun 2012 di depan Kantor Imigrasi. Pada mulanya gerombolan Teroris Budha Rakhine itu menghentikan bus naas yang berplat nomor 7 (GA) 7868 ini. Mereka menghentikan bus tepat di depan gerbang Imigrasi. Lalu beberapa penumpang bus turun dan meminta agar massa teroris itu tidak melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap seluruh penumpang.

Namun para teroris itu tidak menghiraukan mereka dan memasuki bus secara paksa, lalu berteriak pada para penumpang bahwa mereka mencari “orang-orang asing”. Kemudian mereka mulai memukuli dan menyeret para Jamaah Muslim turun ke jalanan.

Para teroris Rakhine yang berjumlah sekitar 300 orang itupun mengeroyok beberapa Jamaah Muslim hingga tewas. Lalu setelah itu massa teroris itu juga menghancurkan dan membakar bus tersebut. Dari sinilah awal terjadinya konflik antar agama yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Kesimpulan

Pembantaian terhadap Kaum Muslim di Myanmar akan terus berlanjut jika ‘dunia’ masih buta dan tuli terhadap penderitaan mereka. Dari negara kita sendiri, tanggapan Indonesia masih biasa saja dan belum ada tindakan yang signifikan. Saat ini etnis Muslim Rohingya mungkin salah satu kelompok yang paling teraniaya.

Etnis Rohingya tak boleh ada di Myanmar dan tidak diterima di Bangladesh. Mudah-mudahan doa para teraniaya itu dapat menyelamatkan mereka atas upaya manusia tidak berperikemanusiaan untuk membasminya di muka bumi ini. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.