Kisah Ibnu Batutah, Sang Penjelajah Yang Belum Tertandingi di Dunia

Traveler terkenal biasanya merujuk kepada Marcopolo, Columbus ataupun James Cook. Ternyata, perjalanan Marcopolo belum ada apa-apanya dengan traveler Muslim satu ini, beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim at-Tanji dan bergelar Syamsudin bin Batutah atau lebih dikenal sebagai Ibnu Batutah.

Ia bukan wartawan National Geographic, bukan pula pesohor-pelancong instagram, atau penulis buku-buku semacam “Panduan Hemat Berkunjung ke Skandinavia”.

Ia hanya seorang terpelajar yang penasaran melihat dunia dan mencatatnya dengan mengandalkan ingatan yang baik. Meskipun sedikit diketahui di luar dunia Islam, Batutah menghabiskan separuh hidupnya untuk berjalan melintasi dunia. Dan berikut saya sudah rangkum fakta-fakta menakjubkan dari perjalanan Ibnu Batutah dari seluruh dunia!

1. Beliau Sudah Mendatangi 44 Negara Modern di Abad Pertengahan

Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji dan ziarah ke Mekah. Itu merupakan perjalanannya yang pertama kali.

Ibnu Batutah telah menempuh lebih dari seratus tujuh puluh lima mil atau 120.000 kilometer, sekitar 44 negara modern. Saat itu, ia masih sangat muda dan berusia 21 tahun.

Hobinya mengunjungi banyak negara di dunia tidak lain hanyalah untuk saling mengenal manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya. Perjalanannya meliputi kota-kota besar di Afrika Utara, Iskandariyah, Dimyath, Kairo, Aswan di Mesir, Palestina, Syam, Mekah, Madinah, Najaf, Basrah, Syiraz di Iran. Moshul, Diyarbakr, Kufah, Bagdad, Jeddah, Yaman, Oman, Hormuz dan Bahrain.

Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam. Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

2. Ibnu Batutah Merupakan Ahli Hukum dan Sarjana

Ibnu Batutah sempat ditunjuk sebagai hakim di Turki, India dan Maladewa. Jauh sebelum generasi milenial merayakan trilogi kerja, senang-senang, dan ibadah, Ibnu Batutah sudah memulainya enam abad silam, sebagaimana kebanyakan penjelajah.

Sebelum menjelajahi sepertiga isi dunia, perjalanan Batutah muda berawal dari Tangier ke Mekah pada Juni 1325—yang dilakukannya dengan menunggang keledai. Ia baru pulang kampung 24 tahun kemudian.

Namun, kedudukan sosial Batutah sebagai ahli hukum dan sarjana yang merupakan profesi turun-temurun dalam keluarganya nampaknya memainkan peran penting di sini. Tak semua semua orang punya privilese tersebut untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Dalam dunia Islam pada masa itu, menimba ilmu artinya berburu pustaka dari satu perpustakaan di Iskandariyyah ke perpustakaan lain di Persia. Sepanjang perjalanan, Batutah sempat menghadiri kuliah di sejumlah kota yang dikunjunginya, termasuk melawat ke pondok dan makam-makam sufi.

3. Misi Perjalanannya Adalah Memperdalam Ilmu Agama

Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanannya ke 44 negara adalah 30 tahun. Selama itu, Ibnu Batutah tidak pulang ke Maroko sehingga saat anak dan ayahnya meninggal dia tidak tahu.

Namun, meski menyisakan duka yang mendalam, ia tetap meneruskan hobinya. Perjalanan yang dilakukan oleh Ibnu Batutah memberikan banyak sekali pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Selama 30 tahun melakukan perjalanan, Ibnu banyak melakukan siar agama Islam. Di negara-negara yang penduduknya masih belum beragama Islam, dia melakukan perdagangan atau kerja sama di bidang lain dengan memasukkan unsur Islam meski tidak secara langsung. Ibnu Batutah ingin apa yang dia miliki dipelajari oleh kawasan yang disinggahi dan dia ingin mempelajari juga budaya di daerah tersebut yang sesuai dengan keyakinannya.

4. Pernah Singgah Ke Nusantara

Pada abad ke-14 Ibnu Batutah berlayar sepanjang pantai Arakan dan kemudian tiba di Aceh, tepatnya di Samudera Pasai. Setelah kunjungannya di Aceh, ia meneruskan perjalanan ke Kanton lewat jalur Malaysia dan Kamboja.

Dalam kunjungannya ke Aceh, Batutah menulis Sumatra dengan nama Jawa. Karena saat itu yang terkenal di kalangan saudagar dunia adalah menyan jawi.

Namun, yang dimaksud Batutah adalah Sumatera. Pulau di mana Pasai berada. Dalam catatan itu, Ibnu Batutah sampai di pesisir Pasai setelah menempuh perjalanan laut selama 25 hari dari India.

“Pulau itu hijau dan subur”, dia menulis tanaman yang banyak tumbuh di Pasai adalah pohon kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, pohon nangka, mangga, jambu, jeruk manis, dan tebu. Batutah juga menulis tumbuhan aromatik yang terkenal di penjuru dunia hanya tumbuh di daerah ini –dulu memang terdapat komoditas tumbuhan aromatik yang dihasilkan di daerah Barus.

5. Catatan Perjalanannya Berjudul Rihlah

Sultan Maroko saat itu bernama Sultan Fez memerintahkan juru tulis bernama Ibnu Juzai untuk menulis kisahnya.

Ibnu Batutah diminta menceritakan apa yang dilakukan selama penjelajahan untuk dibuatkan laporan penjelajahan yang komplit.

Banyak kisah menarik yang diceritakan dalam buku catatan perjalanan Ibnu Bathuthah ini, terutama cerita-cerita tentang para sultan, para syaikh, sejarah sebuah negeri, falsafah kehidupan masyarakat setempat dan lain sebagainya yang ia tulis berdasarkan pengamatan langsung dari negeri-negeri yang ia kunjungi.

Dari India sampai negeri Cina, dari Afrika sampai Nusantara, Ibnu Bathuthah menceritakan perjalanannya secara apik dan mengesankan. Ia misalnya, menceritakan kunjungannya bertemu dengan Sultan Jawa (Sultan Nusantara) dari Kerajaan Samudera Pasai, Sultan Malik Az-Zhahir.

Ibnu Bathuthah sendiri menyebut hasil karyanya ini sebagai persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dalam perjalanan yang menakjubkan, yang ia tuangkan dalam sebuah catatan perjalanan. Ibnu Bathuthah berhasil merangkai sebuah catatan perjalanan sebagai karya sejarah bermutu tinggi, yang bisa dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah sebuah bangsa dan peradaban manusia.

Nah, inilah kisah Ibnu Batutah yang dikenal sebagai penjelajah Muslim terhebat di dunia. Beliau datang tidak menjajah seperti penjelajah Eropa, namun hanya sekedar memperdalam ilmu agama. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah membaca.