Dracula VS Muhammad Al-Fatih, Sejarah Yang di Pelintir Barat

Sultan Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih juga dikenal sebagai el-Fatih atau ‘sang penakluk’, merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai keahlian dalam bidang kemiliteran, sains, matematika, menguasai 8 bahasa dan menjadi Sultan saat berumur 19 tahun. Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, tiada tanding dan tawadhu’ setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di ‘Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaidah pemilihan tentaranya. Ia merupakan murid Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sehebat-hebat pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sekuat-kuat pasukan.”
[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. Hadits nabi Muhammad SAW ini sudah ada jauh sebelum Muhammad Al-Fatih dilahirkan.

Konstantinopel merupakan kota yang hari ini dikenal dengan nama Istanbul, Turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota dengan benteng terkuat yang tak tertembus sepanjang masa akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.

Namun, yang tak kalah menarik selain penaklukkan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih ada sebuah peperangan lain yaitu melawan Vlad III alias Dracula.

Dracula adalah vampir penghisap darah yang merupakan tokoh utama fiksi ciptaan Bram Stoker dalam novelnya Dracula yang diterbitkan pada tahun 1897. Dracula adalah seorang bangsawan vampir yang diceritakan berasal dari kota Transilvania yang berada di Rumania. Kelemahan Dracula ialah bawang putih, salib dan roti sakramen. Dia lebih lemah pada siang hari namun sinar matahari tidaklah terlalu berbahaya baginya. Selama ini, Dracula dianggap hanya sebagai cerita karangan saja yang didramatisir dengan kepentingan komersil. Namun, fakta sebenarnya sosok Drakula ini sebenarnya memang ada.

Dracula hidup sezaman dengan Muhammad Al-Fatih, dia hanya setahun lebih tua dari penakluk Konstantinopel ini. Dracula lahir tahun 1431 (Al-Fatih tahun 1432). Dia adalah salah seorang penguasa Wallachia (sekarang bagian selatan Romania). Nama aslinya Vlad III bapaknya juga bernama Vlad, tepatnya Vlad II. Bapaknya Dracula ini punya gelar Dracul (Rumania: Draco = Naga), karena dia adalah salah satu dari anggota Ordo Naga.

Sejak menguasai Konstantinopel, Vlad II yang tak lain adalah ayah Dracula dan Sultan Al-Fatih sepakat untuk membuat sebuah perjanjian. Intinya tempat ini masuk dalam kekuasaan Islam, dan Wallachia harus memberikan jizyah atau semacam pajak.
Selain soal jizyah, Sultan Al Fatih membuat sebuah kesepakatan cerdas agar daerah ini tidak bisa mudah lepas atau memberontak. Ya, sultan meminta dua anak Vlad II untuk dikirim ke Konstantinopel untuk belajar militer. Kedua anak Vlad II ini bernama Vlad III atau Dracula dan Radu Cel Frumos.

1. Asal Muasal Perang Muhammad Al-Fatih Vs Dracula

Dracula memiliki impian, suatu ketika ia akan jadi pemimpin tertinggi di Wallachia dan ganti menyerang Islam. Siapa yang menyangka jika cita-cita ini menunjukkan titik terang. Diceritakan jika Vlad II dikudeta dan mati. Untuk mengisi kekosongan pemimpin, maka dikirimlah Vladd III atau Dracula untuk menggantikan posisi ayahnya.

Sebelum hal tersebut terjadi, pasukan Turki Ustmani berperang dengan pihak oposisi. Hingga pada akhirnya berhasil ditumpas dan Dracula pun menjabat. Alih-alih berterima kasih, Vlad III pun justru merencanakan untuk menghancurkan balik umat Islam.

Setelah Vlad III menjabat, seperti yang seharusnya, Sultan mengirim utusan untuk menagih jizyah atau pajak. Alih-alih dibayar, Dracula justru membunuh utusan ini dengan sangat kejam. Berita ini diketahui sultan dan membuatnya khawatir.

2. Sultan Muhammad Al-Fatih Mengirim Ribuan Pasukan Untuk Membawa Hidup Dracula

Pada 1462 Muhamad Al-Fatih memerintahkan panglima perang Hamzah Bey membawa ribuan pasukan untuk menangkap Dracula, dan nasib ribuan pasukan ini berakhir tragis. Dracula menggunakan kemampuan infiltrasinya dengan apa yang dia pelajari di Konstantinopel, dia benar-benar memahami taktik dan strategi berperang umat Muslim, lalu dengan gerakan-gerakan yang efektif, Dracula kemudian mengalahkan dan membantai ribuan pasukan Muslim itu.

Dracula menyula (menusuk dengan kayu dari anus hingga tembus ke kerongkongan) 1.000 pasukan ini, hingga jadi hutan mayat manusia. Hamza Bey, komandan pasukan ini, ditempatkan ditengah hutan mayat dan ditaruh di kayu paling tinggi sebagai simbol penghinaan.

3. Strategi Cerdas Sultan Muhammad Al-Fatih

Pertempuran Malam yang sering dikenal The Night Attack, atau Atacul de Noapte de la Targoviste terjadi pada tanggal 17 Juni 1462 M. Butuh srigala untuk menaklukkan srigala, Sultan Al-Fatih yang masih shock dengan kematian ribuan pasukannya, merencanakan penyerangan sekali lagi untuk menumpas Dracula. Akhirnya dikirimlah Radu Cel Frumos yang tak lain merupakan saudara kandung dari Dracula. Peperangan ini sangat tidak mudah, namun Radu setidaknya sangat memahami daerah kelahirannya tersebut.

Sang panglima yang sudah Muslim ini pun melakukan penyerangan ke benteng Catate Poenari, tempat Dracula bersembunyi. Tempatnya yang tinggi sangat menyulitkan Radu. Namun, pada akhirnya penyerangan ini berhasil. Dracula kabur ke Hungaria dan berlindung di bawah ketiak pria yang sebelumnya telah melakukan kudeta dan membunuh ayahnya. Namun, pada akhirnya kepala Dracula berhasil ditebas oleh pasukan Turki Ustmani yang menyamar sebagai pasukannya.

Namun warisan Dracula tetap kekal bagi dunia, kekejaman tiada banding yang dia contohkan dan kebiadaban tanpa batas. Sampai saat ini Rumania mengakuinya sebagai pahlawan negara dalam perang salib dan patung-patungnya bertebaran di Rumania. Bagi kaum Muslim, Dracula adalah simbol kekejaman musuh kemanusiaan, pembunuh umat muslim. Namun saat ini konsep Dracula, Vampir, dibuat dan dibungkus dengan bagus hingga kisahnya dijadikan film Hollywood oleh barat dengan fakta yang jauh berbeda. Semoga bermanfaat dan terima kasih.